*"Apa Kata Orang", atau "Apa Kata Allah"*
*"Apa Kata Orang", atau "Apa Kata Allah"*
_*Saudaraku yang dikasihi Allah.*_
Dengarlah cerita saya: "Suatu hari, ada seorang tua bersama anaknya yang masih kecil membeli seekor keledai di sebuah pasar. Selesai membeli, mereka kembali dengan membawa seekor keledai. Di tengah perjalanan, orang-orang yang melihat mereka saling berbisik, rupanya mereka mencemooh orang tua tersebut yang menunggang keledai sementara anak kecilnya berjalan kaki menuntun keledai, _" Tega-teganya anak sekecil itu disuruh jalan kaki"._ Akhirnya sang orang tua memerintahkan anaknya untuk menunggang keledai sementara dia berjalan kaki. Namun orang-orang yang melihatnya juga mencemoohnya, _"dasar anak tidak tahu diri, orang tuanya malah disuruh jalan kaki"..._ begitu celoteh mereka.
Kali ini orang tua dan anaknya tersebut berjalan kaki menuntun keledainya, namun tetap saja orang-orang yang mencemoohnya, _"Buat apa beli keledai kalau tidak ditunggangi..."._ Terakhir, orang tua tersebut dan anaknya sama-sama menunggang keledai itu, apa yang terjadi?, ternyata itupun tetap mengundang komentar negatif; _"dasar ngga punya 'kepribinatangan', keledai kecil seperti itu dinaiki berdua..."_...
π¦π¦π¦π¦π¦
_*Nah saudaraku yang disayangi Allah*_
✅Pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah diatas adalah, jika perhatian kita dalam hidup ini hanya berpusat terhadap _"apa kata orang?",_ maka hidup kita akan sangat melelahkan dan tidak tenang. Sebab sekian banyak manusia yang kita temui sangat beragam keinginannya, bahkan satu orang saja, bisa jadi memiliki pandangan beragam dan berubah-ubah.
✅Maka benarlah kalau ada orang bijak berkata:
_"Keridhoan semua manusia adalah tujuan yang tak akan tercapai"_
π¦π¦π¦π¦π¦
Karena itu, _*saudaraku yang dimuliakan Allah*_, agar hidup kita lebih ringan dan mantap, maka hidup harus kita pusatkan terhadap _"apa kata Allah?"_. Sebab hanya satu, Dia Maha Esa, dan apa yang Dia tetapkan, ingini dan senangi, tidak pernah berubah sejak dulu hingga sekarang, bahkan hingga akhir kiamat. Baik dalam masalah keyakinan, ibadah maupun akhlak. Berbedakah Tauhid yang Allah minta dari kita, dulu dan sekarang?, berbedakah shalat yang Allah tuntut kepada kita, dulu dan sekarang?, berbedakah standar pakaian, pergaulan, makanan dll, yang Allah ridhoi sejak dahulu hingga sekarang?. Semuanya tidak ada yang berubah sejak dahulu hingga sekarang.
Bandingkan perbedaanya, orang yang hidup dengan standar berbeda-beda dengan orang yang hidup dengan pedoman yang mantap dan tidak berubah-ubah.
Lagi pula ketika hidup kita mengejar keridhoaan Allah, maka dengan Kekuasaan-Nya, Allah Ta'ala akan mengiring manusia untuk ridho kepadanya. Jika sebaliknya, maka hasilnyapun akan terjadi sebaliknya.
===========
Rasulullah saw bersabda:
_"Siapa yang berusaha mendapatkan ridho Allah sekalipun dengan risiko kemarahan manusia, maka Allah meridhoinya dan menjadikan manusia ridho kepadanya. Dan siapa berusaha mendapatkan ridho manusia dengan melakukan apa yang membuat Allah murka, maka Allah murka kepadanya dan menjadikan manusia marah kepadanya"_ (Riwayat Ibnu Hibban)
_Sumber: Nasehat Dari Hati ke Hati, Abdullah Haidir_
_*Saudaraku yang dikasihi Allah.*_
Dengarlah cerita saya: "Suatu hari, ada seorang tua bersama anaknya yang masih kecil membeli seekor keledai di sebuah pasar. Selesai membeli, mereka kembali dengan membawa seekor keledai. Di tengah perjalanan, orang-orang yang melihat mereka saling berbisik, rupanya mereka mencemooh orang tua tersebut yang menunggang keledai sementara anak kecilnya berjalan kaki menuntun keledai, _" Tega-teganya anak sekecil itu disuruh jalan kaki"._ Akhirnya sang orang tua memerintahkan anaknya untuk menunggang keledai sementara dia berjalan kaki. Namun orang-orang yang melihatnya juga mencemoohnya, _"dasar anak tidak tahu diri, orang tuanya malah disuruh jalan kaki"..._ begitu celoteh mereka.
Kali ini orang tua dan anaknya tersebut berjalan kaki menuntun keledainya, namun tetap saja orang-orang yang mencemoohnya, _"Buat apa beli keledai kalau tidak ditunggangi..."._ Terakhir, orang tua tersebut dan anaknya sama-sama menunggang keledai itu, apa yang terjadi?, ternyata itupun tetap mengundang komentar negatif; _"dasar ngga punya 'kepribinatangan', keledai kecil seperti itu dinaiki berdua..."_...
π¦π¦π¦π¦π¦
_*Nah saudaraku yang disayangi Allah*_
✅Pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah diatas adalah, jika perhatian kita dalam hidup ini hanya berpusat terhadap _"apa kata orang?",_ maka hidup kita akan sangat melelahkan dan tidak tenang. Sebab sekian banyak manusia yang kita temui sangat beragam keinginannya, bahkan satu orang saja, bisa jadi memiliki pandangan beragam dan berubah-ubah.
✅Maka benarlah kalau ada orang bijak berkata:
_"Keridhoan semua manusia adalah tujuan yang tak akan tercapai"_
π¦π¦π¦π¦π¦
Karena itu, _*saudaraku yang dimuliakan Allah*_, agar hidup kita lebih ringan dan mantap, maka hidup harus kita pusatkan terhadap _"apa kata Allah?"_. Sebab hanya satu, Dia Maha Esa, dan apa yang Dia tetapkan, ingini dan senangi, tidak pernah berubah sejak dulu hingga sekarang, bahkan hingga akhir kiamat. Baik dalam masalah keyakinan, ibadah maupun akhlak. Berbedakah Tauhid yang Allah minta dari kita, dulu dan sekarang?, berbedakah shalat yang Allah tuntut kepada kita, dulu dan sekarang?, berbedakah standar pakaian, pergaulan, makanan dll, yang Allah ridhoi sejak dahulu hingga sekarang?. Semuanya tidak ada yang berubah sejak dahulu hingga sekarang.
Bandingkan perbedaanya, orang yang hidup dengan standar berbeda-beda dengan orang yang hidup dengan pedoman yang mantap dan tidak berubah-ubah.
Lagi pula ketika hidup kita mengejar keridhoaan Allah, maka dengan Kekuasaan-Nya, Allah Ta'ala akan mengiring manusia untuk ridho kepadanya. Jika sebaliknya, maka hasilnyapun akan terjadi sebaliknya.
===========
Rasulullah saw bersabda:
_"Siapa yang berusaha mendapatkan ridho Allah sekalipun dengan risiko kemarahan manusia, maka Allah meridhoinya dan menjadikan manusia ridho kepadanya. Dan siapa berusaha mendapatkan ridho manusia dengan melakukan apa yang membuat Allah murka, maka Allah murka kepadanya dan menjadikan manusia marah kepadanya"_ (Riwayat Ibnu Hibban)
_Sumber: Nasehat Dari Hati ke Hati, Abdullah Haidir_
Komentar
Posting Komentar